Merajut Kebhinekaan Dan Toleransi Umat Dari Balik Jeruji Besi

0
473

Merajut Kebhinekaan Dan Toleransi Umat Dari Balik Jeruji BesiBangsa indonesia adalah bangsa yang besar dengan bermacam-macam suku, budaya, dan agama. Kemerdekaan yang di bangun oleh para pahlawan adalah andil dari segenap suku, budaya, dan agama demi berdirinya bangsa Indonesia.

Untuk itu persatuan dan kesatuan dalam bingkai keberagaman wajib hukumnya untuk dijaga dan dipelihara sebagai bagian dari keindahan berbangsa. Momen bulan Ramadhan kali ini, dilapas tenggarong menyelenggarakan buka bersama dimana Warga binaan pemasyarakatan yang beragama kristiani ikut serta dengan warga binaan yang beragama muslim.

Kegiatan ini tentu saja dimaksudkan untuk terus memelihara kedamaian, khususnya pasca pilpres dan pileg beberapa waktu lalu. Acara yang diselenggarakan pada (24/05/19) berjalan dengan lancar.

Dalam kesempatan tersebut kalapas Tenggarong Didik Heru Sukoco menekankan bahwasanya acara seperti ini merupakan momen untuk menjaga persatuan dan keamanan di lembaga pemasyarakatan. Tak hanya itu kalapas juga berpesan agar warga binaan dapat selalu menaati ketertiban dan keamanan yang ada.

Merajut Kebhinekaan Dan Toleransi Umat Dari Balik Jeruji Besi

Selepas buka puasa bersama dilanjutkan dengan Sholat Maghrib bersama bagi umat muslim, dan dilanjutkan dengan makan malam antara staf, penjagaan, wbp muslim, dan wbp kristiani. Nampak warga binaan menikmati momen kebersamaan tersebut.

Lius salah satu wbp yang beragama kristiani mengungkapkan bahwasanya acara ini sangat berkesan, terlebih hal ini baru ia rasakan selama menjadi warga binaan di lapas kelas IIB Tenggarong. Lebih lanjut salah satu WBP beragama muslim pun turut mendukung diadakan acara ini di setiap tahunnya, agar rasa persaudaraan tetap terjalin sesama bangsa.

Merawat kebhinekaan dan toleransi umat beragama di lembaga pemasyarakatan adalah suatu hal yang perlu untuk dilakukan. Selain asas keamanan, namun dengan membudayakan hal tersebut untuk terus dijaga berkaitan dengan mindset keberhasilan WBP saat ia bebas dan berkumpul di tengah masyarakat nantinya.

Perbedaan mungkin akan terasa menyakitkan manakala ia tak dapat di lebur dalam kesatuan. Namun dengan belajar untuk menerima perbedaan maka ia akan menciptakan keindahan sebagai bagian dari sunatullah dalam keberagaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here